Yang paling mendebarkan (sekaligus paling mengasyikkan) adalah saat kita harus melaporkan suatu peristiwa secara langsung.
Kunci utama keberhasilan sebuah Live Reporting adalah penguasaan materi berita itu. Seorang Reporter begitu tiba di tempat kejadian dituntut kepekaannya merekam dalam benaknya alur peristiwa yang kelak mewarnai berita yang dibuatnya.
Penonton tidak mau tahu, pokoknya Reporter harus tampil sempurna, nampak cerdas dan menguasai masalah. Seseru apapun peristiwa yang didapatkan, akan sia-sia jika Reporter yang melaporkannya berbicara “grathal-grathul” mirip monyet menelan kelereng. Kesan cerdas juga tiba-tiba sirna jika penampilan Reporter mirip petani tebu yang baru kalah judi. Oleh karena itu, tidak kalah pentingnya adalah kerapian.
Tom Mintier menyarakan bersikap tenang, kuasai masalah, tulis point-pointnya dan kembangkan improvisasi. CNN menerapkan standar yang cukup ketat untuk menentukan Reporter yang boleh muncul di layar dan siapa yang tidak. Keputusan itu ada di tangan Vice President Stasiun Televisi terbesar di Amerika Serikat tersebut.
Kesan cerdas dan menguasai masalah juga sangat ditentukan oleh kemampuan Reporter memilih kata-kata, merangkainnya menjadi kalimat yang menarik dan membawakannya dengan mimik yang pas. Apa jadinya jika berita kematian seorang Tokoh Ulama dibawakan dengan “pringas-pringis”.
Pembawaan menyangku Speed bicara dan intonasi bicara. Kesan monoton, datar, dan lamban akan menjadikan Reporter begitu mudah dicap bodoh dan tidak menguasai masalah. Sebaliknya, intonasi yang pas dan speed yang terjaga, sangat mudah mendatangkan kesan cerdas dan menguasai masalah.
PRINSIP
- Saat Live, Reporter harus tenang, kuasai masalah, tulis point-pointnya, dan kembangkan imrpovisasi
- Perhatikan penampilan, kita bukan orang dungu yang asal ngomong.
- Susun kalimat yang menarik. Bawakan dengan intonasi yang pas. Perhatikan speed bicara.
- Pengucapan kalimat-kalimat harus sempurna. Ingat seseru apapun berita kita, jadi sia-sia kalau cara melaoprkannya mirip monyet menelan kelereng.